Materi Pokok Mengapresiasi dan Mengkreasikan Fabel
KD 3.12 Bahasa Indonesia Kelas VII SMP
Menelaah Struktur Fabel
Fabel merupakan cerita yang menggambarkan
watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang (berisi
pendidikan moral dan budi pekerti). Fabel ini memiliki empat bagian dalam
strukturnya. Keempat bagian tersebut adalah sebagai berikut.
Orientasi
Bagian awal dari suatu cerita yang berisi pengenalan tokoh, latar tempat, dan waktu
Komplikasi
Konflik atau permasalahan antara satu dengan tokoh yang lain. Komplikasi menuju klimaks
Resolusi
Bagian yang berisi pemecahan masalah
Koda (boleh ada boleh tidak)
Bagian terakhir fabel yang berisi perubahan yang terjadi pada tokoh
dan pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaa tersebut.
Agar lebih memahami struktur fabel, perhatikan contoh dan
pengidentifikasian struktur fabel berikut ini!
|
Gajah
yang Baik Hati Siang hari
itu suasana di hutan sangat terik. Tempat tinggal si Kancil, Gajah, dan
lainnya seakan terbakar. Kancil kehausan. Dia berjalan-jalan mencari air. |
-Judul -Orientasi |
|
Di tengah
perjalanan dia melihat kolam dengan air yang sangat jernih. Tanpa pikir
panjang dia langsung terjun ke dalam kolam. Tindakan Kancil sangat ceroboh,
dia tidak berpikir bagaimana cara ia naik ka atas. Beberapa kali Kancil
mencoba untuk memanjat tetapi ia tidak bisa sampai ke atas. Si Kancil
tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berteriak meminta tolong. Teriakan si
Kancil ternyata terdengar oleh si Gajah yang kebetulan melewati tempat itu.
“Hai, siapa yang ada di kolam itu?” “Aku... si Kancil
sahabatmu” Kancil
terdiam sesaat mencari akal agar Gajah mau menolongnya. “Tolong aku
mengangkat ikan ini” “Yang benar
kau mendapat ikan?” “Bener...Bener!
aku mendapatkan ikan yang sangat besar” Gajah
berpikir sejenak. Bisa saja ia turun ke bawah dengan mudah tetapi bagaimana
jika naiknya nanti. “Kau mau
memanfaatkanku, yaCil? Kau akan menipuku untuk kepentingan dan keselamatanmu
sendiri?’ tanya Gajah Kancil hanya
terdiam “Sekali-kali
kamu harus diberi pelajaran” kata Gajah sambil meninggalkan tempat tersebut. Gajah tidak
mendengarkan teriakan Kancil. Kancil mulai putus asa. Semakin lama berada di
tempat itu Kancil mulai merasa kedinginan. Hingga menjelang sore tidak ada
seekor binatang yang mendengar teriakannya. “Aduh gawat!
Aku benar-benar akan kaku di tempat ini” dia berpikir apa ini karma karena
dia sering menjaili teman-temannya. |
Komplikasi
sampai klimaks |
|
tidak lama,
tiba-tiba Gajah muncul lagi. Kancil meminta tolong kembali. Bagaimana
Cil?” “Tolong aku,
aku berjanji tidak akan isenglagi” “Janji?”
Gajah menekankan. “Sekarang
apakah kamu sudah sadar? Dan akan berjanji tidak akan menipu, jahil, iseng,
dan perbuatan yang merugikan binatang lain?” “Benar Pak
Gajah, saya benar-benar berjanji” Gajah
menjulurkan belalainya yang panjang untuk menangkap Kancil dan mengangkatnya
ke atas. Begitu sampai ke atas Kancil berkata. “Terima kasih
Pak Gajah! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini” |
Resolusi |
|
Sejak itu
Kancil menjadi binatang yang sangat baik. Ia tidak lagi berbuat iseng seperti
yang pernah ia lakukan pada beruang dan binatang-binatang lainnya. Memang kita
harus berhati-hati kalau bertindak. Jika tidak hati-hati akan celaka. Jika
kita hati-hati kita akan selamat. Bahkan bisa menyelamatkan orang lain. |
Kodda |
Menelaah
Variasi Pengungkapan Struktur Fabel
Mencermati
Variasi Pengungkapan Orientasi
Amati
beragam contoh orientasi berikut!
Contoh
1: diawali dengan deskripsi latar
|
Pagi itu sang
mentari menampakkan diri dengan senyum terindahnya. Nuri
bersama sahabat-sahabatnya bernyanyi riang. Sementara Katak Putih bertepuk
tangan dengan ceria. Sudah terkenal di seluruh hutan bahwa si Nuri dan si
Katak Putih bersahabat karib. Saling menopang dan saling menolong dalam suka
dan duka. Suatu saat terjadilah keadaan yang
sangat mengejutkan. Tiba-tiba.... |
Contoh
12 diawali dengan latar dan kegiatan tokoh
|
Di keheningan
malam, Kura-kura nampak tidur pulas bersama Katak sahabat baiknya. Sudah dua bulan ini Kura-kura sakit dan sahabatnya dengan setia
mendampinginya. |
Contoh
3: diawali dengan latar di masa lalu
|
Pada zaman
dahulu, hiduplah sekelompok gajah raksasa.
Pada siang terik itu, Gajah bersama teman-temannya berjalan tegap ke arah
perkampungan Semut. Panah terik tak dihiraukan. Mereka tetap berjalan sambil
bercanda ria. |
Simpulan
orientasi fabel.
|
Bagian |
Ciri isi |
Ciri bahasa |
|
Orientasi |
Berisi pengenalan tempat terjadinya cerita, pengenalan tokoh |
Kata keterangan tempat/waktu. Di sebuah hutan... |
Mencermati
Variasi Pengungkapan Komplikasi
Perhatikan
contoh berikut!
Contoh
1: diawali dengan konflik batin
|
Semakin lama Kura-kura merasa
hidupnya tidak berguna lagi. Dia merasa hanya bisa merepotkan teman-temannya. |
Contoh
2: diawali dengan konflik fisik
|
Ketika Gajah memasuki areal
perkampungan Semut Merah, tanpa diduga pasukan Smut Merah tiba-tiba
menyerangnya. Semut menuduh Gajah melakukan penghancuran perkampungannya.
Gajah mengelak dan mencoba menjelaskan. Akan tetapi Semut terus menyerang
telinga Gajah. |
Contoh
3: diawali dengan perubahan latar dan peristiwa tidak mengenakkan tokoh
|
Bulan berganti bulan, tahun
berganti tahun. Ternyata semua keadaan tak ada yang abadi. Persahabatan Gajah
dan Semut dilanda perpecahan. Semut mulai mengkhianati persahabatan itu. |
Contoh
4
|
Tiba-tiba datanglah badai yang
teramat kencang dan menghancuran semua makanan yang telah dikumpulkannya
berbulan-bulan. Semut menangis membayangkan masalah yang akan dihadapi di
musim dingin. |
Contoh
5
|
Kegembiraan yang membuncah di
hutan itu tiba-tiba sirna karena kedatangan Katak yang sangat sombong. Semua
binatang dihinanya karena kekurangannya. |
Simpulan
komplikasi fabel.
|
Bagian |
Ciri isi |
Ciri bahasa |
|
Komplikasi |
Berisi awal terjadinya masalah/ada perubahan/ada kejutan |
Tiba-tiba.... Tanpa diduga.... |
Mencermati
Variasi Pengungkapan Klimaks
Perhatikan
contoh berikut!
|
Cici terus berlari dikejar Singa.
Meski sekuat tenaga berlari dia
tertangkap juga. Cici sudah terseok-seok karena kelelahan. Sementara
singa sudah semakin dekat. Tiba-tiba Huo!! Ada yang menarik kakinya ke balik
semak. Dia menjerit ketakutan. |
|
Katak terus berjalan dan terus
menghina hewan-hewan lain yang ditemuinya. Setelah semut dan ikan dihinanya,
kini giliran burung dihina oleh katak. Burung membalas menghina katak |
|
Kesabarannya menghadapi Kasuari
yang sombong itu sudah habis. Dipatahkanlah sayap Kasuari. Kasuari tetap
mencoba terbang meski terasa lemas. Semakin dia mencoba, semakin sakit dan
lemaslah tubuhnya. Dia sangat kesakitan ketika menggerakkan sayapnya. |
|
Ketegangan memuncak keadaan tak
dapat dikendalikan lagi. Pertengkaran semakin menjadi dan kondisi hutan
terbakar habis. |
Simpulan
klimaks fabel.
|
Bagian |
Ciri isi |
Ciri bahasa |
|
Klimaks |
Berisi puncak masalah |
Semakin... Pada puncaknya kesabarannya tak bisa dibentuk |
Mencermati
Variasi Pengungkapan Resolusi
Contoh
1: diawali dengan meredanya konflik
|
Akhirnya, masalah menjadi jelas. Tak ada salah paham lagi di
antara kelompok gajah dan semut. |
Contoh
2: diawali dengan dialog yang menandakan keadaan
|
“ayo cepat Ci...” dengan rasa kebersamaan mereka pun akhirnya
selamat. |
|
Dalam hati berkata lirih, “Maafkan aku sahabatku, aku dapat
musibah dan kamu yang telah menolingku. Setelah mengalami berbagai goncangan
akhirnya semu cobaan lewat dan hilanglah semua sakit hati. |
Simpulan
resolusi fabel.
|
Bagian |
Ciri isi |
Ciri bahasa |
|
Resolusi |
Menyatakan pemecahan masalah atau kondisi akhir peristiwa akibat
dari semua perilaku tokoh. Ganjaran yang diterima tokoh. Perubahan watak
tokoh yang menjadi baik. |
Dia menyadari.... Akhirnya, |
Mencermati
Variasi Pengungkapan Koda
Pernyataan
penulis tentang pelajaran yang dapat diambil dari cerita fabel
|
Kuda berkulit harimau yang menjadi tokoh pada cerita itu
melambangkan bahwa sepandai-pandainya orang berpura-pura, suatu saat akan
terbongkar juga kepura-puraannya itu. Kejujuran merupakan sikap yang paling
indah di dunia ini. |
|
Siapa yang menanam akan menuai.
Siapa yang berbuat baik akan dibalas dengan perbuatan baik. Begitu juga
sebaliknya. Orang yang menanam keburukan akan menuai hasil keburukannya
sendiri. |
|
Kejahatan akan selalu dikalahkan oleh kebaikan. Apapun yang
berbuat jahat akan dikalahkan oleh perbuatan baik. |
Mencermati
Variasi Pengembangan Watak Tokoh
Variasi pengembangan watak tokoh adalah
cara penulis mengembangkan karakter tokoh dalam cerita fable. Berikut ada
beberapa variasi pengembangan watak tokoh dalam cerita fabel
Contoh
1: deskripsi fisik tokoh
|
Farni adalah kelinci yang lucu.
Bulunya putih bak mutiara. Matanya sebening air danau. Jika ia makan, bibir
merahnya yang cantik akan bergerak indah. Kecantikan farni tidak diragunkan
lagi di hutan Ambarata. |
Contoh
2: kegiatan tokoh
|
Singa mengaum menunjukkan
taringnya yang putih dan tajam. Ia menggaruk-garuk tanah menandakan amarahnya
sedang memuncak. Bulu yang ada di sekitar kepalanya bergoyang seram. Semua
hewan di hutan bergidik ketakutan. |
Contoh
3: dialog tokoh dengan diri sendiri
|
“Ah... kue ini pasti nikmat sekali apalagi jika kumakan sendiri
tanpa berbagi dengan mereka”. Gumamnya dalam hati |
Contoh
4: dialog dengan tokoh lain
|
“Ah... kamu tidak bisa terbang karena kakimu kecil, kalau kakiku sempurna
bisa melompat ke mana-mana,” kata Katak pada semut. “Jangan menghina Katak, Tuhan memberikan kita kelebihan
masing-masing,” Burung bersuara dengan nada lembut. |
Mencermati
Pola Pengembangan Judul
Contoh
1: Judul berasal dari nama tokoh
Cici dan Serigala
Kancil dan Tikus
Contoh
2: judul dikembangkan berdasarkan sifat tokoh
Tikus yang baik hati
Gajah penolong
Merak yang pemurah
Contoh
3: judul diambil dari tema
Semua istimewa
Pilihan
Kata atau Diksi pada Fabel
Menunjukkan
latar dengan pilihan yang mudah diimajinasikan. Untuk menunjukkan latar, baik
latar suasana, waktu, maupun tempat diperlukan diksi yang tepat. Pemilihan
diksi yang tepat dapat memudahkan pembaca mengimajinasikan latar. Berikut
contoh diksi untuk menunjukkan latar.
|
Latar Suasana |
Latar Tempat |
Latar Waktu |
|
Hangat sinar matahari menyentuh
kulit burung hantu Digunakan untuk mendeskripsikan suasana pagi |
Telaga tiga warna bak pelangi |
Kala itu, pada zaman dahulu |
|
Sinar matahari memecut kulit
meninggalkan warna kemerahan Digunakan untuk suasana siang |
Di tengah hutan, di hutan
belantara |
Di siang hari yang terik, di malam
yang syahdu, dll |
Menelaah
Penggunaan Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
a.
Kalimat
langsung
Adalah
kalimat yang diucapkan secara langsung kepada orang yang dituju. Kalimat
langsung ditandai dengan pemakaian tanda petik (“…”). Ciri-ciri kalimat
langsung mencakup a) menggunakan tanda petik; b) intonasi tinggi untuk tanda
Tanya, datar untuk kalimat berita, dan tanda seru dilagukan dengan intonasi
perintah; c) kata ganti prang pertama dan orang kedua.
b.
Kalimat
tidak langsung
Adalah kalimat yang melaporkan atau memberitahukan perkataan orang
lain dalam bentuk kalimat berita. Ciri-ciri kalimat tidak langsung mencakup a)
tidak menggunakan tanda petik; b) intonasi membacanya datar; c) terdapat
perubahan kata ganti orang.
Perubahan kata ganti:
Kata ganti orang ke-1 berubah menjadi orang ke-3
“Saya”, “aku” menjadi “dia” atau “ia”
Kata ganti orang ke-2 berubah menjadi orang ke-1
“kamu” “dia” menjadi “saya” atau nama orang
Kata ganti orang ke-2 dan ke-1 jamak berubah menjadi “kami” “kita”
dan “mereka” “kalian” “kami” menjadi “mereka” “kami”
Cara penulisan kalimat langsung
1. Bagian kalimat langsung diapit oleh tanda petik dua (“) bukan petik satu (‘)
2. Tanda petik penutup ditaruh setelah tanda baca yang mengakhiri kalimat petikan. Contoh:
Andi mengatakan, “Aku akan pergi ke sekolah besok.” (benar)
Andi mengatakan, “Aku akan pergi ke sekolah besok”. (salah)
3. Kalimat pengiring harus diakhiri dengan satu tanda koma dan satu spasi apabila bagian kalimat pengiring terletak sebelum kalimat petikan.
Contoh:
Ulu berkata, “Biarlah saya bernyanyi sendiri”
4. Kalimat pengiring harus diakhiri dengan satu tanda koma dan satu spasi apabila bagian kalimat pengiring terletak setelah kalimat petikan.
“Ulu, aku tidak suka dengan hujan,” kata Semut lirih.
5. Jika ada dua kalimat petikan, huruf awal pada kalimat petikan pertama menggunakan huruf capital. Sedangkan pada kalimat petikan kedua menggunakan huruf kecil kecuali nama orang dan kata sapaan.
Contoh:
“Coba saja minta sama ayah,” kata ibu, “dia pasti akan memberikannya.”
LATIHAN
A. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Materi Pembelajaran :
Mengapresiasi dan Mengkreasikan Fabel
Kelas : VII
Hari/tanggal :
Nama
Peserta Didik :
Bacalah
Fabel di bawah ini dan tentukan bagian struktur tabel!
|
Kuda Berkulit
Harimau Seekor kuda sedang berjalan dari
sebuah ladang gandum menuju sebuah hutan yang lebat. Kuda itu telah puas
memakan gandum yang ada di ladang itu. Dia tampak gembira karena tidak ada
petani gandum yang menjaga ladangnya. Ketika dia menuju hutan lebat, di
tengah jalan kuda itu melihat sesuatu. “Itu seperti kulit harimau”. Gumam
kuda itu. Kuda itu lalu mendekatinya dan ternyata memang benar apa yang
dilihatnya adalah kulit harimau yang tak sengaja ditinggalkan oleh para
pemburu harimau. Kuda itu mencoba memakai kulit harimau itu, “Wah, kebetulan
sekali, kulit harimau ini sangat pas di tubuhku. Apa yang akan kulakukan
dengannya ya?” Terlintaslah di benak kuda itu
untuk menakuti binatang-binatang hutan yang melewatinya. “Aku harus segera
bersembunyi. Tempat itu harus gelap dan sering dilalui oleh binatang hutan.
“Di mana ya?” tanya kuda dalam hati sambil mencari tempat yang cocok.
Akhirnya, dia menemukan semak-semak yang cukup gelap untuk bersembunyi, lalu
masuk ke dalamnya dengan menggunakan kulit harimau. Tak lama kemudian,
beberapa domba gunung berjalan ke arahnya. Kuda itu menggumam bahwa
domba-domba itu cocok dijadikan sasaran empuk kejahilannya. Ketika domba-domba itu melewatinya,
kuda itu meloncat ke arah mereka sehingga sontak domba-domba itu kalang kabut
melarikan diri. Merekatakut dengan kulit harimau yang dikenakan kuda itu.
“Tolong, ada harimau! Lari, cepat lari!” teriak salahs atu domba. Kuda itu
tertawa terbahak-bahak melihat domba-domba itu pontang-panting berlari. Setelah itu, kuda itu kembali
bersembuyni di dalam semak-semak. Dia menunggu hewan lain datang melewati
semak-semak itu. “Ah, ada tapir menuju kemari, tapi lambat betul geraknya.
Biarlah, aku jadi bisa lebih lama bersiap-siap melompat!” kata kuda itu dalam
hati. Tibalah saat kuda itu meloncat ke arah tapir itu, ia terkejut dan lari
tunggang-langgang menjauhi kuda yang memakai kulit harimau itu. Kuda itu
kembali ke semak-semak sambil bersorak penuh kemenangan di dalam hatinya. Kali ini, kudaitu menunggu lebih
lama dari biasanya, tetapi hal itu tidak membuatnya bosan. Tiba-tiba, seekor
kucing hutan berlari sambil membawa seekor tikus di mulutnya. Kucing itu
tidak melewati semak-semak, kucing hutan itu duduk menyantap tikus yang ia
tangkap di dekat pohon besar. “Ah, ternyata kucing itu tidak melewati
semak-semak ini. Biarlah aku membuatnya kaget di sana,” kata kuda itu dalam
hati. Kuda itu pun keluar dari semak-semak dan berjalan hati-hati mendekati
kucing hutan. Saat jaraknya sudah sangat dekat, kuda itu mengaum seperti
halnya seekor harimau, tetapi rupanya dia tidak sadar bukannya mangaum, dia
malah meringkik. Mendengar suara itu, kucing hutan menoleh ke belakang dan
melihat seekor kuda berkulit harimau. Sesaat kucing hutan itu siap-siap
mengambil langkah seribu, tetapi ia malah tertawa terbahak-bahak sembari
berkata, “Saat aku melihatmu memakai kulit harimau itu, aku pasti akan lari
ketakutan, tapi rupanya suaramu itu ringkikan kuda, jadi aku tidak takut,
hahaha!” Kucing hutan itu juga berkata
kepada kuda bahwa sampai kapan pun, suara ringkiknya tidak akan bisa berubah
jadi auman. Kuda berkulit harimau itu
melambangkan bahwa sepandai-pandainya orang berpura-pura, suatu saat akan
terbongkar juga kepura-puraannya itu. Kejujuran merupakan sikap yang paling
indah di dunia ini. |
a)
Urutkanlah
peristiwa fabel di atas ke dalam tabel struktur berikut ini!
|
Bagian Fabel |
Bukti dalam
Teks |
|
Orientasi |
|
|
Komplikasi |
|
|
Resolusi |
|
|
Koda |
|
Tentukan tokoh dan penokohan tokoh fabel yang telah kalian baca beserta alasan dan pembuktiannya dalam tabel berikut ini!
|
Tokoh |
Watak |
Cara
pengembangan watak |
Bukti dalam
teks |
|
Kuda |
|
|
|
|
Domba |
|
|
|
|
Tapir |
|
|
|
|
Kucing hutan |
|
|
|
